Oleh : Fiska Rahmawati, NIM:
17101153054, HES III C
Mengamati
pelayanan publik
Sedikit menjelaskan mengenai sratifikasi
sosial merupakan pembedaan atau pengelempokan para anggota masyarakat secara bertingkat. Ukuran atau
kriteria yang menonjol sebagai dasar pembentukan stratifikasi sosial bisa
dilihat dari ukuran kekayaan dari benda-benda tersier yang dimilikinya, cara
berpakaian, kebiasaan dalam berbelanja maupun kemampuan dalam berbagi kepada
sesama, kekuasaan dalam masyarakat yang bersangkutan karena orang kaya dalam masyarakat
biasa dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, ukuran kehormatan
sangat terasa pada masyarakat tradisional biasanya menghormati orang yang
banyak jasanya kepada masyarakat dan orang-orang yang berperilaku dan berbudi
luhur, ukuran ilmu pengetahuan.
Pada hari kamis pada tanggal 29
september 2016 saya melaksanakan kuliah lapangan pengganti jam mata pelajaran sosiologi
hukum. Saya waktu itu bimbang untuk menentukan mana yang akan dituju, setelah
beberapa menit kemudian saya memutuskan untuk ke salah satu Rumah Sakit Negeri
yang berada di Kota Blitar.
Setelah sampai ditujuan saya mulai
melakukan pengamatan dari keberagaman masyarakat yang hadir, cara petugas
memberikan pelayanan dan kepuasan masyarakat.
Motto dari rumah sakit tersebut
ialah profesional dalam pelayanan, menenpatkan pengguna layanan sebagai pusat
perhatian, dan memberikan pelayanan yang berkualitas-terjangkau dan paripurna
sesuai standar prosedur pelayanan, untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang
pro rakyat.
Visi : Terwujudnya Rumah Sakit
sebagai rumah sakit pilihan utama masyarakat, yang mampu bersaing di era global
pada tahun 2015. Misi : Memberikan
pelayanan kesehatan yang paripurna kepada masyarakat, membangun citra pelayanan
kesehatan yang partisipatif, membangun kerjasama dengan rumah sakit pemerintah,
rumah sakit swasta dan pihak ketiga, meningkatkan sistem manajemen rumah sakit,
meningkatkan kompetensi dan pemberdayaan sumber daya manusia serta mengupayakan
peningkatan kesejahteraan karyawan.
Saya disana menemukan salah satu
petugas parkir yang cuek tanpa memberikan senyuman, tetapi ada pula yang
lumayan ramah dan memberi senyum.
Saya mulai keliling lagi mencari
narasumber yang bersedia dan mau untuk di wawancarai. Saat itu saya bertemu
dengan ibu Yulaika warga Tambakrejo yang keperluannya menunggu putranya yang
sedang sakit. Ibu Yulaika melaporkan bahwa pelayanan di sini baik sama juga dengan
dokternya, perawatnya juga ramah dan murah senyum, tidak merasakan keluhan
bahkan ibu yulaika sudah merasa puas dengan pelayanan tersebut.
Narasumber yang kedua menolak untuk
diwawancarai, yang ketiga pun juga menolak dengan alasan baru saja datang
menunggu pasien dan belum mengetahui kesehariannya di rumah sakit jadi tidak
bisa bercerita.
Terakhir saya menuju ibu-ibu yang
sedang duduk santai di tangga yang bernama Ibu Dewi asal Sananwetan, Ibu
Mujiati asal Sentul, Ibu Triani asal Bendogerit semua berasal dari Blitar semua
dengan keperluan yang sama untuk menunggu kelahiran saudaranya. Menurut ibu-ibu
tersebut pelayanan yang disediakan sudah bagus, tetapi masih tetap ada
kekurangan kebersihan terutama di kamar
mandi. Pelayanan pun juga ramah dengan senyum, tetapi ada juga dokter yang
istilahnya tidak mau tanya jawab dengan pasien ataupun sesama yang sedang
menunggunya. Penanganan bisa cepat jikalau dokter ada dan tidak dinas keluar,
untuk penanganan UGD juga langsung ditangani dan setelah itu bisa mendapatkan
kamarnya. Ya, intinya dari ketiga ibu-ibu tersebut puas.
Mayoritas dari yang saya amati orang-orang
disana memakai asesoris jam tangan, gelang, kalung, cincin, dan ada juga yang sebagian dengan kacamata minus dan kaca
mata untuk fashion, ada pula yang bersepatu pantopel, sepatu biasa, maupun yang
memakai sandal jepitpun juga ada. Kendaraan yang digunakan mayoritas sepeda
motor.
Sementara itu saya belum menemukan
masyarakat yang diperlakukan diskriminasi, semua masyarakat mayoritas juga pada
mengantri seperti waktu penebusan obat.
Setelah itu saya keliling untuk ke
kantin KPRI HUSADA pelayanan yang saya temukan pelayannya ramah, sopan, senyum,
kata-katanya halus dan tidak ketus. untuk makanannya dibuat mengambil
sendiri-sendiri oleh pembeli.
Sarana yang berada disana meliputi
musola, minimarket, kantin dan gedung yang megah dan luas. Sepertinya dari
musolanya kebersihannya juga kurang teratur untuk jadwal pembersihannya. Bagian
belakang yang masih luas itu pun juga
kurang terjaga dengan kebersihannya.
Perasaan saya sebagai orang pencari
narasumber demi mendapatkan info yang saya rasakan saat itu sungkan, ndredek
dll karena menjadi pengalaman pertama dalam kuliah lapangan. Sementara
masyarakat yang ingin saya wawancarai juga merasa bingung, dan ada yang merasa
sukarela untuk membantu saya.
Hasil pengamatan oleh Choiriyah pada
salah satu kantor yang berada di daerah Tulungagung yaitu catatan sipil, dia
berkata bahwa pelayanan yang berada disana kurang cepat, karena yang melayani
sedikit sedangkan masyarakat yang mengantri sangat banyak saat musim-musim
pembuatan ktp. Banyak warga yang belum bisa dilayani pagi sampai siang. Suasana
pun menjadi ramai pengunjung. Petugas yang melayani ramah tetapi dengan tidak
senyum.
Kebanyakan kalangan masyarakat menengah yang menggunakan kendaraan
sepeda motor. Mereka berkepentingan untuk membuat e-ktp maupun akta kelahiran.
Lalu dilanjut oleh pengamatan Hanik yang mengamati di Al-Hikmah
pelayanan yang diberikan kepada pengunjung sama seperti kalangan atas maupun bawah.
Kalangan menengah kurang setuju jika pembayaran spp dilakukan pada tanggal
muda, sedangkan kalangan atas merasa tidak keberatan dan tidak ada masalah
untuk pembayaran pada tanggal muda. Untuk masalah fasilitas pun juga tidak ada
yang dibeda-bedakan.
Kemudian dari Dendi yang mengamati disalah satu bank yang berada di
Tulungagung. Ketika dendi masuk untuk berparkir disambut oleh satpam yang
ramah, satpam tersebut menyapa dengan sapaan “selamat pagi ada yang bisa saya
bantu”. Ketika masuk pada ruang transaksi tellernya ramah, tidak
membanding-bandingkan masyarakat yang atas maupun bawah. Misi dari bank
tersebut adalah memuaskam pelanggan.
Terakhir laporan pengamatan dari Silvy pada saat pengamatan di
salah satu rumah sakit yang berlokasi di Tulungagung bahwa pelayanan disana
dibedakan dengan pasien yang menggunakan sistem bpjs dengan yang tidak memakai
bpjs, yang memakai pelayanannya dipersulit dan diperlambat sedangkan yang tidak
memakai bpjs pelayanannya cepat dan tidak molor-molor. Jam besuk disana sangat
diperketat, salah satunya harus dengan
menunjukkan ktp sebagai tanda bukti.
Orang-orang juga ramah, senyum. Sarana disana mayoritas memiliki
musola, minimarket, dan tempat wudhu beserta kamar mandi ada sabun anti septik
untuk melindungi dari kuman.
Dari hasil pengamatan masing-masing kelompok tersebut menjelaskan
bahwa setiap lembaga ataupun kantor-kantor yang mereka kunjungi dengan lembaga
yang saya amati jenis pelayanannya berbeda dan ada yang sama. Tetap ada saja
yang masih mengedepankan masyarakat kalangan atas, menengah, maupun masyarakat
bawah. Semoga bermanfaat, sekian dari saya mohon maaf atas segala kekurangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar