Rabu, 05 Oktober 2016

Mengamati pelayanan publik



 Oleh : Fiska Rahmawati, NIM: 17101153054, HES III C
Mengamati pelayanan publik
           
           




           


 Sedikit menjelaskan mengenai sratifikasi sosial merupakan pembedaan atau pengelempokan para anggota  masyarakat secara bertingkat. Ukuran atau kriteria yang menonjol sebagai dasar pembentukan stratifikasi sosial bisa dilihat dari ukuran kekayaan dari benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaian, kebiasaan dalam berbelanja maupun kemampuan dalam berbagi kepada sesama, kekuasaan dalam masyarakat yang bersangkutan karena orang kaya dalam masyarakat biasa dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, ukuran kehormatan sangat terasa pada masyarakat tradisional biasanya menghormati orang yang banyak jasanya kepada masyarakat dan orang-orang yang berperilaku dan berbudi luhur, ukuran ilmu pengetahuan.

            Pada hari kamis pada tanggal 29 september 2016 saya melaksanakan kuliah lapangan pengganti jam mata pelajaran sosiologi hukum. Saya waktu itu bimbang untuk menentukan mana yang akan dituju, setelah beberapa menit kemudian saya memutuskan untuk ke salah satu Rumah Sakit Negeri yang berada di Kota Blitar.
            Setelah sampai ditujuan saya mulai melakukan pengamatan dari keberagaman masyarakat yang hadir, cara petugas memberikan pelayanan dan kepuasan masyarakat.
            Motto dari rumah sakit tersebut ialah profesional dalam pelayanan, menenpatkan pengguna layanan sebagai pusat perhatian, dan memberikan pelayanan yang berkualitas-terjangkau dan paripurna sesuai standar prosedur pelayanan, untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang pro rakyat.
            Visi : Terwujudnya Rumah Sakit sebagai rumah sakit pilihan utama masyarakat, yang mampu bersaing di era global pada tahun 2015. Misi :  Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna kepada masyarakat, membangun citra pelayanan kesehatan yang partisipatif, membangun kerjasama dengan rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta dan pihak ketiga, meningkatkan sistem manajemen rumah sakit, meningkatkan kompetensi dan pemberdayaan sumber daya manusia serta mengupayakan peningkatan kesejahteraan karyawan.
            Saya disana menemukan salah satu petugas parkir yang cuek tanpa memberikan senyuman, tetapi ada pula yang lumayan ramah dan memberi senyum.
            Saya mulai keliling lagi mencari narasumber yang bersedia dan mau untuk di wawancarai. Saat itu saya bertemu dengan ibu Yulaika warga Tambakrejo yang keperluannya menunggu putranya yang sedang sakit. Ibu Yulaika melaporkan bahwa  pelayanan di sini baik sama juga dengan dokternya, perawatnya juga ramah dan murah senyum, tidak merasakan keluhan bahkan ibu yulaika sudah merasa puas dengan pelayanan tersebut.
            Narasumber yang kedua menolak untuk diwawancarai, yang ketiga pun juga menolak dengan alasan baru saja datang menunggu pasien dan belum mengetahui kesehariannya di rumah sakit jadi tidak bisa bercerita.
            Terakhir saya menuju ibu-ibu yang sedang duduk santai di tangga yang bernama Ibu Dewi asal Sananwetan, Ibu Mujiati asal Sentul, Ibu Triani asal Bendogerit semua berasal dari Blitar semua dengan keperluan yang sama untuk menunggu kelahiran saudaranya. Menurut ibu-ibu tersebut pelayanan yang disediakan sudah bagus, tetapi masih tetap ada kekurangan  kebersihan terutama di kamar mandi. Pelayanan pun juga ramah dengan senyum, tetapi ada juga dokter yang istilahnya tidak mau tanya jawab dengan pasien ataupun sesama yang sedang menunggunya. Penanganan bisa cepat jikalau dokter ada dan tidak dinas keluar, untuk penanganan UGD juga langsung ditangani dan setelah itu bisa mendapatkan kamarnya. Ya, intinya dari ketiga ibu-ibu tersebut puas.
            Mayoritas dari yang saya amati orang-orang disana memakai asesoris jam tangan, gelang, kalung, cincin, dan ada juga  yang sebagian dengan kacamata minus dan kaca mata untuk fashion, ada pula yang bersepatu pantopel, sepatu biasa, maupun yang memakai sandal jepitpun juga ada. Kendaraan yang digunakan mayoritas sepeda motor.
            Sementara itu saya belum menemukan masyarakat yang diperlakukan diskriminasi, semua masyarakat mayoritas juga pada mengantri seperti waktu penebusan obat.
            Setelah itu saya keliling untuk ke kantin KPRI HUSADA pelayanan yang saya temukan pelayannya ramah, sopan, senyum, kata-katanya halus dan tidak ketus. untuk makanannya dibuat mengambil sendiri-sendiri oleh pembeli.
            Sarana yang berada disana meliputi musola, minimarket, kantin dan gedung yang megah dan luas. Sepertinya dari musolanya kebersihannya juga kurang teratur untuk jadwal pembersihannya. Bagian belakang yang masih luas itu pun  juga kurang terjaga dengan kebersihannya.
            Perasaan saya sebagai orang pencari narasumber demi mendapatkan info yang saya rasakan saat itu sungkan, ndredek dll karena menjadi pengalaman pertama dalam kuliah lapangan. Sementara masyarakat yang ingin saya wawancarai juga merasa bingung, dan ada yang merasa sukarela untuk membantu saya.
            Hasil pengamatan oleh Choiriyah pada salah satu kantor yang berada di daerah Tulungagung yaitu catatan sipil, dia berkata bahwa pelayanan yang berada disana kurang cepat, karena yang melayani sedikit sedangkan masyarakat yang mengantri sangat banyak saat musim-musim pembuatan ktp. Banyak warga yang belum bisa dilayani pagi sampai siang. Suasana pun menjadi ramai pengunjung. Petugas yang melayani ramah tetapi dengan tidak senyum.
Kebanyakan kalangan masyarakat menengah yang menggunakan kendaraan sepeda motor. Mereka berkepentingan untuk membuat e-ktp maupun akta kelahiran.
Lalu dilanjut oleh pengamatan Hanik yang mengamati di Al-Hikmah pelayanan yang diberikan kepada pengunjung sama seperti kalangan atas maupun bawah. Kalangan menengah kurang setuju jika pembayaran spp dilakukan pada tanggal muda, sedangkan kalangan atas merasa tidak keberatan dan tidak ada masalah untuk pembayaran pada tanggal muda. Untuk masalah fasilitas pun juga tidak ada yang dibeda-bedakan.
Kemudian dari Dendi yang mengamati disalah satu bank yang berada di Tulungagung. Ketika dendi masuk untuk berparkir disambut oleh satpam yang ramah, satpam tersebut menyapa dengan sapaan “selamat pagi ada yang bisa saya bantu”. Ketika masuk pada ruang transaksi tellernya ramah, tidak membanding-bandingkan masyarakat yang atas maupun bawah. Misi dari bank tersebut adalah memuaskam pelanggan.
Terakhir laporan pengamatan dari Silvy pada saat pengamatan di salah satu rumah sakit yang berlokasi di Tulungagung bahwa pelayanan disana dibedakan dengan pasien yang menggunakan sistem bpjs dengan yang tidak memakai bpjs, yang memakai pelayanannya dipersulit dan diperlambat sedangkan yang tidak memakai bpjs pelayanannya cepat dan tidak molor-molor. Jam besuk disana sangat diperketat, salah satunya harus dengan  menunjukkan ktp sebagai tanda bukti.
Orang-orang juga ramah, senyum. Sarana disana mayoritas memiliki musola, minimarket, dan tempat wudhu beserta kamar mandi ada sabun anti septik untuk melindungi dari kuman.
Dari hasil pengamatan masing-masing kelompok tersebut menjelaskan bahwa setiap lembaga ataupun kantor-kantor yang mereka kunjungi dengan lembaga yang saya amati jenis pelayanannya berbeda dan ada yang sama. Tetap ada saja yang masih mengedepankan masyarakat kalangan atas, menengah, maupun masyarakat bawah. Semoga bermanfaat, sekian dari saya mohon maaf atas segala kekurangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar